Langsung ke konten utama

Postingan

Caramel Machiato

Kamu itu seperti caramel machiato. Pertama kali mencobanya, terasa hambar. Seteguk kemudian kamu terasa manis. lima teguk kemudian kamu terasa manis dan sedikit gurih. Delapan teguk kemudian muncullah rasa pahit. Iya, terasa pahit. Aku masih di sini, di stasiun Manggarai, tempat dimana pertama kali kita bertemu. Aku masih ingat, pertama kali kau menungguku di depan kantor kepala stasiun, menyelonjorkan kakimu yang di balut celana coklat. Begitu terdengar kereta bekasi masuk peron 1, kamu bangkit. Berdiri sambil celingak celinguk dimana aku. Aku tau, aku memperhatikanmu sedari di kereta. Aku rindu. Setiap sabtu aku menunggu. Di peron 6, aku duduk manis nan anggun. Mengunjungimu, karena hanya itu yang aku mampu. Aku tak dapat berbuat banyak, dengan semua jarak yang terbentang. Tempat ini menyimpan banyak cerita. Kisah kasih kita berdua. Tawa kita, rindu kita, cinta kita, juga resah kita. Manggarai adalah saksi bisu betapa kita merindu. Aku memutar memori tentang kita. Tentang c...
Postingan terbaru

Andai #1

"Bian, kenapa hujan selalu jatuh? padahal ia tau jatuh itu sakit." Mata bulat Nada berkaca, hatinya sedang gundah gulana. "Hm? Kenapa ya." Hening sejenak. Fabianus tampak kebingungan dengan pertanyaan Nada. "Ih, Bian. Jawab." "Karena hujan tau, bahwa jatuh adalah takdirnya. Hujan percaya, bahwa ia akan melihat sang pelangi tersenyum jika ia jatuh. Sang Pelangi begitu indah, dan hujan selalu ingin melihat pelangi. Makanya, hujan selalu jatuh meski ia tau jatuh itu sakit." Fabianus mengusap kening Nada yang berbaring di pahanya. Entah mengapa Bian selalu berharap bahwa penantiannya akan berakhir pada gadis lucu ini. "Jadi, hujan jatuh cinta sama pelangi?" "I think so." Nada mengubah posisinya. Kini ia bersandar pada sebatang pohon besar yang juga di sandari Fabianus. Mata Bian mengekor, seolah ia takut Nada pergi meninggalkannya. Nada menoleh, menatap mata Bian dengan lembut. Ada sorot kesedihan juga cinta yang membaur. ...