Langsung ke konten utama

Caramel Machiato

Kamu itu seperti caramel machiato. Pertama kali mencobanya, terasa hambar. Seteguk kemudian kamu terasa manis. lima teguk kemudian kamu terasa manis dan sedikit gurih. Delapan teguk kemudian muncullah rasa pahit.

Iya, terasa pahit.

Aku masih di sini, di stasiun Manggarai, tempat dimana pertama kali kita bertemu. Aku masih ingat, pertama kali kau menungguku di depan kantor kepala stasiun, menyelonjorkan kakimu yang di balut celana coklat. Begitu terdengar kereta bekasi masuk peron 1, kamu bangkit. Berdiri sambil celingak celinguk dimana aku. Aku tau, aku memperhatikanmu sedari di kereta. Aku rindu.

Setiap sabtu aku menunggu. Di peron 6, aku duduk manis nan anggun. Mengunjungimu, karena hanya itu yang aku mampu. Aku tak dapat berbuat banyak, dengan semua jarak yang terbentang.

Tempat ini menyimpan banyak cerita. Kisah kasih kita berdua. Tawa kita, rindu kita, cinta kita, juga resah kita. Manggarai adalah saksi bisu betapa kita merindu.

Aku memutar memori tentang kita. Tentang ceritamu dan ceritaku. Tantang keponakanmu yang rindu aku. Tentang keluargamu yang cinta aku, dan keluargaku yang membencimu. Tentang kita yang selalu menginginkan bersama. Tentang mimpi keluarga kecil kita. Dan kita yang di sadarkan oleh keadaan, bahwa kebersamaan ini mustahil. Bahwa kebahagiaan yang kita impikan mungkin tak akan bertahan lama jika memaksa untuk terus bersama.

Aku tak mampu. Namun aku harus. Jarak kita tak mampu di tempuh. Persetan dengan berjuang yang kau maksud. Aku tetap tak mampu. Kenyataan pahit ini biarlah jadi alasan kenapa kita tak menyatu.

Biarlah aku dengan tasbihku, dan kamu dengan rosariomu. Tinggalkan aku dengan hijab dan Al-quran dalam genggamanku, dan aku akan merelakanmu untuk terus menggenggam alkitab mu tanpa adanya tuntutan untuk menyatu.

Cintaku padamu mungkin semu, karena aku hanya mencintai Tuhan-ku, Allah SWT.

Komentar