Langsung ke konten utama

Andai #1

"Bian, kenapa hujan selalu jatuh? padahal ia tau jatuh itu sakit." Mata bulat Nada berkaca, hatinya sedang gundah gulana.
"Hm? Kenapa ya." Hening sejenak. Fabianus tampak kebingungan dengan pertanyaan Nada.
"Ih, Bian. Jawab."
"Karena hujan tau, bahwa jatuh adalah takdirnya. Hujan percaya, bahwa ia akan melihat sang pelangi tersenyum jika ia jatuh. Sang Pelangi begitu indah, dan hujan selalu ingin melihat pelangi. Makanya, hujan selalu jatuh meski ia tau jatuh itu sakit." Fabianus mengusap kening Nada yang berbaring di pahanya. Entah mengapa Bian selalu berharap bahwa penantiannya akan berakhir pada gadis lucu ini.
"Jadi, hujan jatuh cinta sama pelangi?"
"I think so."
Nada mengubah posisinya. Kini ia bersandar pada sebatang pohon besar yang juga di sandari Fabianus. Mata Bian mengekor, seolah ia takut Nada pergi meninggalkannya.
Nada menoleh, menatap mata Bian dengan lembut. Ada sorot kesedihan juga cinta yang membaur. "Kamu tau, Bian? Hujan sama sepertiku. Aku tau ini sakit, tapi aku tetap bertahan. Karena aku mencintaimu."
Hanya senyum getir yang dapat Bian tampakkan. Ia tau, sejak pertama ia melihat Nada, sejak itu pula hidupnya tak lagi mudah. Ya, karenamu, Qatrunnada. Batin Bian.

"Oh ya, aku penasaran. Qatrunnada, artinya apa?"
"Dalam bahasa arab, Qatrunnada berarti tetesan embun. Fabianus, apa?"
Bian tersenyum, ia membenarkan posisinya, menghadap sang pujaan hati. "Fabianus adalah seorang paus, pemimpin gereja Katolik Roma. Beliau wafat pada tahun 250 sebagai martir." Nada hanya mengangguk angguk tanda mengerti. Mereka berdua terdiam, tenggelam pada pikiran masing masing.

"Bian,"
Bian menoleh, "Hum?"
"Jika aku tau bahwa bersamamu akan sesulit ini, aku akan mengurungkan niatku bertemu denganmu waktu itu."
Hatinya mencelos, bagaimana bisa anak ini bicara seperti itu? Sedang ia pun kini menikmati waktu bersamaku.
"Sudahlah, Nada. Untuk apa kamu menyesali sesuatu yang tak akan kembali? Nikmati saja dulu yang ada di depan mata. Syukuri segala sesuatu yang Tuhan beri, meskipun mungkin sesuatu itu tidak bisa kamu miliki."
Mata Nada berkaca kaca. Ia sudah menahan air matanya sejak tadi. Ia tak sanggup. Ia terlalu mencintai Bian. Sanggupkah, ia?

"Jadi, aku tidak bisa milikimu seorang diri, Bian?"
"Maka, ikutlah aku. Aku janji, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik. Aku janji akan rajin mengikuti Misa, jika kamu mau ikut bersamaku."
Sudah berulang kali Nada mendengar kalimat ini. Kedengarannya ini tidak pantas di telinga Nada.
"Bian, apa alasan kamu untuk tetap pada Tuhan-mu?"
"Karena aku percaya, bahwa Yesus adalah anak Allah, Tuhan yang Maha Esa, yang di lahirkan dari rahim Perawan Maria. Dan aku mendapatkan hidayahku disini."
"Seperti kamu yang meng-iman-i Yesus, maka aku mengimani Muhammad dan Allah subhaanahu wata'ala. Dan aku percaya, bahwa Al-Quran adalah kitab pelengkap."
Hening. Bahkan bisikan dedaunan begitu jelas di telinga. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua saat ini.

Suara rintihan membuat Bian menoleh, ia baru tersadar bahwa Nada telah berhasil meneteskan mutiara bening dari matanya.
"Nada, kamu kenapa?"

TBC

Rgrds,
Anggun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Caramel Machiato

Kamu itu seperti caramel machiato. Pertama kali mencobanya, terasa hambar. Seteguk kemudian kamu terasa manis. lima teguk kemudian kamu terasa manis dan sedikit gurih. Delapan teguk kemudian muncullah rasa pahit. Iya, terasa pahit. Aku masih di sini, di stasiun Manggarai, tempat dimana pertama kali kita bertemu. Aku masih ingat, pertama kali kau menungguku di depan kantor kepala stasiun, menyelonjorkan kakimu yang di balut celana coklat. Begitu terdengar kereta bekasi masuk peron 1, kamu bangkit. Berdiri sambil celingak celinguk dimana aku. Aku tau, aku memperhatikanmu sedari di kereta. Aku rindu. Setiap sabtu aku menunggu. Di peron 6, aku duduk manis nan anggun. Mengunjungimu, karena hanya itu yang aku mampu. Aku tak dapat berbuat banyak, dengan semua jarak yang terbentang. Tempat ini menyimpan banyak cerita. Kisah kasih kita berdua. Tawa kita, rindu kita, cinta kita, juga resah kita. Manggarai adalah saksi bisu betapa kita merindu. Aku memutar memori tentang kita. Tentang c...